Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar.
April 05, 2025, 12:07:14 PM

Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi

Shoutbox

Ellenlag

Desember 31, 2024, 02:50:24 AM
We have thoroughly reviewed and evaluated the top best antivirus to provide our readers with a curated list of the most trusted providers. Safeguard your personal data and computer from cyber threats choose one of the leading antivirus solutions from the table belo

O Ik

Maret 14, 2021, 12:04:08 AM
Kapan-kapan kita cerita-cerita tentang Paus Formosus.

O Ik

Maret 14, 2021, 12:03:51 AM
Kapan-kapan kita cerita-cerita tentang planet-panet.
 

cotrans

Desember 07, 2020, 03:17:25 PM
Kapan-kapan, kita kumpul bareng, yuk, sambil makan-makan.  ;D
 

new_news

Juli 09, 2020, 03:19:21 PM
Halo.  Saya anggota baru.  :D

Recent

Anggota
Stats
  • Total Tulisan: 133
  • Total Topik: 124
  • Online Today: 1
  • Online Ever: 180
  • (Januari 31, 2025, 09:57:07 AM)
Pengguna Online
Users: 0
Guests: 7
Total: 7

7 Pengunjung, 0 Pengguna

Penulis Topik: Konsep Pengamat Agung  (Dibaca 156 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Offline cotrans

  • Administrator
  • Full Member
  • *****
  • Tulisan: 111
  • Reputasi: +0/-0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
  • Agama: Katolik
Konsep Pengamat Agung
« pada: Januari 09, 2022, 08:33:55 PM »
Kula Nuwun.

\section{Konsep Pengamat Agung}

\emph{Pengamat agung} adalah pengamat yang tidak memerlukan partikel informatif untuk mengamati gerak sebuah objek di ruang $\mathbb{R}^3$, sedangkan \emph{pengamat non-agung} adalah pengamat yang memerlukan partikel informatif untuk mengamati gerak sebuah objek di ruang $\mathbb{R}^3$.  Contoh partikel informatif di sini adalah \emph{lukson}, yaitu partikel yang sedang bergerak dengan kelajuan cahaya dalam ruang hampa, yaitu $c := 299792458,\cdots \operatorname{m}/\operatorname{s}$.  Contoh dari lukson adalah foton yang bergerak dalam ruang hampa.  Di sini, diasumsikan bahwa objek tersebut selalu memancarkan lukson secara terus-menerus ke segala arah dengan \emph{lintasan garis lurus} di ruang $\mathbb{R}^3$ selama ia bergerak.  Pada titik waktu $\tilde{t} \in \mathbb{R}$, posisi objek tersebut adalah $\vec{r} \in \mathbb{R}^3$ menurut pengamat agung di titik $\vec{0} \in \mathbb{R}^3$.  Titik waktu menurut pengamat non-agung di titik $\vec{0} \in \mathbb{R}^3$ adalah $t \in \mathbb{R}$ yang bersesuaian dengan titik waktu $\tilde{t}$ menurut pengamat agung tersebut, sehingga
\[ dt = d\tilde{t} + (1/c)|\vec{r}_{\tilde{t}}(\tilde{t} + d\tilde{t})| - (1/c)|\vec{r}| \]
alias
\[ dt = d\tilde{t} + (1/c)d|\vec{r}| \]
alias
\[ \frac{dt}{d\tilde{t}} = 1 + \frac{1}{c}\frac{d|\vec{r}|}{d\tilde{t}} \]
alias (diintegralkan)
\[ \int_0^{\tilde{t}} \frac{dt}{d\tilde{t}}d\tilde{t} = \int_0^{\tilde{t}} d\tilde{t} + \frac{1}{c}\int_0^{\tilde{t}} \frac{d|\vec{r}|}{d\tilde{t}}d\tilde{t} \]
alias
\[ t = t_{\tilde{t}}(0) + \tilde{t} + (1/c)(|\vec{r}| - \vec{r}_{\tilde{t}}(0)). \]
Tentu saja, posisi objek tersebut pada saat $t$ menurut pengamat non-agung adalah $\vec{r} \mapsto t$ yang tentu saja sama dengan posisi $\vec{r} \mapsto \tilde{t}$ menurut pengamat agung.  Yang membedakan di sini semata-mata hanyalah urutan penampakan objek tersebut antara menurut pengamat agung dan menurut pengamat non-agung.  Tentu saja, pengamat agung akan melihat objek tersebut lebih awal daripada pengamat non-agung, mengingat, sekali lagi, pengamat agung tidak memerlukan partikel informatif dalam melihat objek tersebut, sedangkan pengamat non-agung memerlukan partikel informatif dalam melihat objek tersebut.

Nderek langkung.



« Edit Terakhir: Januari 09, 2022, 08:37:24 PM by cotrans »

 

Top Poster

cotrans
111 Tulisan

Roni
17 Tulisan

new_news
2 Tulisan

adgroups
1 Tulisan

O Ik
1 Tulisan

Ellenlag
0 Tulisan

Alexeynut
0 Tulisan

GeorgeSluri
0 Tulisan